Langsung ke konten utama

Umar bin Khattab r.a dibunuh budak bernama abu lu'lu'ah

 KISAH SAHABAT 


๐—จ๐— ๐—”๐—ฅ ๐—•๐—œ๐—ก ๐—ž๐—›๐—”๐—ง๐—›๐—”๐—• ๐—ฅ๐—”๐——๐—›๐—œ๐—ฌ๐—”๐—Ÿ๐—Ÿ๐—”๐—›๐—จ '๐—”๐—ก๐—›๐—จ ๐——๐—œ๐—•๐—จ๐—ก๐—จ๐—› ๐—ข๐—Ÿ๐—˜๐—› ๐—ข๐—ฅ๐—”๐—ก๐—š ๐—ฃ๐—˜๐—ฅ๐—ฆ๐—œ๐—” (๐—ฆ๐—˜๐—ž๐—”๐—ฅ๐—”๐—ก๐—š : ๐—ก๐—˜๐—š๐—”๐—ฅ๐—” ๐—œ๐—ฅ๐—”๐—ก ๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡ถ)


❓Kata orang, khalifah Umar dibunuh orang Iran, bener gak itu ?


Jawaban:


✍️ Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebenarnya berita tentang syahidnya Umar, telah disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Suatu ketika, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakr, Umar, dan Utsman Radhiyallahu ‘anhun. Merasa ada banyak manusia istimewa yang menaikinya, Uhud langsung bergetar. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ุงุซْุจُุชْ ุฃُุญُุฏُ ูَุฅِู†َّู…َุง ุนَู„َูŠْูƒَ ู†َุจِู‰ٌّ ูˆَุตِุฏِّูŠู‚ٌ ูˆَุดَู‡ِูŠุฏَุงู†ِ


*"> Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu ada seorang nabi, seorang shiddiq dan dua orang syahid."*


(HR. Bukhari 3472, Ahmad 12435, dan yang lainnya).


Dalam catatan kaki shahih Bukhari dinyatakan,


( ุดู‡ูŠุฏุงู† ) ู‡ู…ุง ุนู…ุฑ ูˆุนุซู…ุงู† ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ูˆู‚ุฏ ู…ุงุชุง ุดู‡ูŠุฏูŠู†


*“DUA ORANG SYAHID”* maksudnya adalah UMAR dan UTSMAN Radhiyallahu ‘anhuma. Dan beliau berdua mati syahid. (Taqliq Shahih Bukhari Musthofa Bugha, catatan hadits no. 3472). 


Dan apa yang dinyatakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti terjadi.


Disamping itu, Umar selalu berharap agar beliau diwafatkan dalam kondisi syahid. Diantara do'a yang beliau baca,


ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุงุฑْุฒُู‚ْู†ِู‰ ุดَู‡َุงุฏَุฉً ูِู‰ ุณَุจِูŠู„ِูƒَ ، ูˆَุงุฌْุนَู„ْ ู…َูˆْุชِู‰ ูِู‰ ุจَู„َุฏِ ุฑَุณُูˆู„ِูƒَ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…


Ya Allah berikanlah aku anugrah mati syahid di jalan-Mu, dan jadikanlah kematianku di negeri Rasul-Mu Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(HR. Bukhari 1890)


๐— ๐˜‚๐˜€๐˜‚๐—ต ๐—œ๐˜€๐—น๐—ฎ๐—บ ๐——๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ถ ๐—จ๐—บ๐—ฎ๐—ฟ


Di zaman Umar Radhiyallahu ‘anhu, kaum muslimin berhasil menaklukkan banyak wilayah kafir, TERMASUK NEGARA MAJUSI DI PERSIA (IRAN).


Hingga Madinah menjadi kaya emas, karena saking banyaknya harta rampasan perang yang dimiliki kaum muslimin dari penaklukkan Persi (calon negara Iran). 


Sementara para tawanan, menjadi budak milik kaum muslimin. Keberhasilan kaum muslimin ternyata menjadi DENDAM para musuh Islam.


Mereka bertekad, tidak akan membiarkan Abu Hafsh (Umar bin Khatab) meninggal dengan tenang di perbaringan.


Dulu ada seorang sahabat bernama Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu.  


Beliau memiliki seorang budak pekerja bernama ABU LU'LU'AH FAIRUZ beragama MAJUSI. 


Sebelumnya, Umar pernah menetapkan peraturan yang melarang tawanan dewasa dibawa masuk ke kota Madinah. 


Hingga Mughirah meminta izin kepada Umar untuk membawa Abu Lu'lu'ah masuk ke Madinah, karena dia memiliki KETERAMPILAN MEMBUAT SENJATA, sehingga bisa bermanfaat untuk umat Islam. 


Abu Lu'lu'ah seorang pandai besi, ahli pertukangan dan ukiran. Maka Umar pun mengizinkan.


Abu Lu’lu’ah memendam keinginan untuk membunuh Umar. Diapun menyiapkan SEBILAH PISAU BESAR BERMATA DUA DENGAN PEGANGAN DI BAGIAN TENGAH PISAU. Pisau ini diasah tajam dan dilumuri RACUN.


Ketika waktu subuh tepatnya di hari Rabu. Orang Majusi ini bersembunyi di salah satu sudut masjid di penghujung malam menunggu waktu subuh.


๐—ž๐—ฟ๐—ผ๐—ป๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—จ๐—บ๐—ฎ๐—ฟ


Amr bin Maimun merupakan saksi sejarah kejadian ini. Imam Bukhari dalam shahihnya menyebutkan pengakuan Amr bin Maimun ketika menceritakan peristiwa itu,


“Pada hari tertusuknya Umar, ketika jamaah shalat subuh itu, aku berada di shaf kedua, sementara di depanku ada Abdullah bin Abbas. Subuh itu, Umar memimpin shalat dengan melewati barisan shaf dan memerintahkan, “Luruskanlah shaf.”


Ketika dia sudah tidak melihat lagi celah-celah dalam barisan shaf tersebut, maka Umar maju lalu bertakbir. Sepertinya beliau membaca surat Yusuf atau An-Nahl pada raka’at pertama, sehingga memungkinkan semua orang bergabung dalam shalat jamaah.


Sesaat ketika aku tidak mendengar bacaan takbir intiqal Umar, tiba-tiba terdengar dia berteriak, “Ada orang yang telah membunuhku, seekor anjing telah menerkamku.”


Abu Lu'u'ah berusaha lari sambil menyabet-nyabetkan belatinya. Hingga ada sekitar 13 orang yang terkena tusukan belatinya, 7 diantaranya meninggal dunia.


Ada salah satu jamaah yang melihat ini, dia langsung melemparkan baju mantelnya dan tepat mengenai si Majusi itu. Ketika dia menyadari bahwa dia tak lagi bisa menghindar, DIA BUNUH DIRI.


Umar memegang tangan Abdur Rahman bin ‘Auf lalu menariknya ke depan. Siapa saja orang yang berada dekat dengan Umar pasti dapat meilihat apa yang aku lihat. 


Adapun orang-orang yang berada di sudut-sudut masjid, mereka tidak mengetahui peristiwa yang terjadi, selain hanya kehilangan suara Umar. 


Mereka berseru, “Subhanallah, Subhanallah.” Mereka menyangka imam shalat lupa.


Kemudian Abdurrahman bin Auf melanjutkan shalat jamaah subuh dengan ringan (beliau membaca surat yang pendek). Setelah shalat selesai, Umar bertanya, 


“Wahai Ibnu Abbas, lihatlah siapa yang telah menikamku.”


Ibnu Abbas berkeliling sesaat lalu kembali, “Budaknya Mughirah.”


Umar bertanya, “Budak yang pandai membuat senjata itu ?”


Ibnu Abbas menjawab, “Ya, benar.”


Mendengar jawaban ini, UMAR BERSYUKUR, beliau memuji Allah, do'anya dikabulkan. Karena BELIAU DIBUNUH OLEH ORANG MAJUSI, BUKAN ORANG ISLAM.


Umar Radhiyallahu ‘anhu mengatakan dalam sebuah kalimat yang dicatat para ahli sejarah,


ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ ุงู„َّุฐِู‰ ู„َู…ْ ูŠَุฌْุนَู„ْ ู…َู†ِูŠَّุชِู‰ ุจِูŠَุฏِ ุฑَุฌُู„ٍ ูŠَุฏَّุนِู‰ ุงู„ุฅِุณْู„ุงَู…َ


> Segala puji bagi Allah, yang tidak meletakkan kematianku di tangan orang yang menyatakan muslim.


Selanjutnya, Umar dibawa pulang. 


Saat itu, masyarakat Madinah seakan tidak pernah mengalami musibah seperti hari itu sebelumnya. 


Amirul Mukminin Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu MENDERITA LUKA MENGANGA karena bekas tusukan itu. Ketika diberi minuman rendaman kurma, minuman itu keluar melalui  perutnya. Kemudian diberi susu namun susu itu keluar melalui lukanya.


Akhirnya orang-orang menyadari bahwa nyawa Umar tidak bisa lagi terselamatkan…


(Shahih Bukhari no. 3700)


๐—ž๐˜‚๐—ฏ๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—”๐—ฏ๐˜‚ ๐—Ÿ๐˜‚'๐—น๐˜‚'


BAGI ORANG SYIAH IRAN DAN SYIAH SEANTERO DUNIA, Abu Lu'lu'ah dianggap pahlawan. Namanya harum di tengah mereka. Dia DIANGGAP PAHLAWAN karena SECARA PENGECUT ‘BERANI’ MEMBUNUH UMAR. 


Karena itulah, dia digelari ABU LU'LU'AH BABA SYUJA AD DIIN, artinya Abu Lu'lu'ah sang pemberani dalam agama. Sebagai lambang permusuhan dengan Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu yang telah menaklukkan Persia.


Banyak orang Syi'ah yang main ke kuburannya untuk berdo'a di sana. Kuburannya di kota Kasyan di Iran. 


Sebenarnya sebagian orang Syi'ah sendiri tidak yakin kuburan Abu Lu'lu'ah ada di Iran, sementara DIA MATI DI MADINAH. 


Tapi ada satu tempat yang mereka klaim sebagai kuburan Abu Lu'lu'ah.


๐ƒ๐ข ๐ฉ๐ข๐ง๐ญ๐ฎ ๐ ๐ž๐ซ๐›๐š๐ง๐  ๐ค๐ฎ๐›๐ฎ๐ซ๐š๐ง ๐€๐›๐ฎ ๐‹๐ฎ๐ค๐ฅ๐ฎ๐ค ๐ญ๐ž๐ซ๐ญ๐ฎ๐ฅ๐ข๐ฌ,


ุจู‚ุนุฉ ู…ุจุฑูƒุฉ ุจุงุจุง ุดุฌุงุน ุงู„ุฏูŠู† ุฃุจูˆ ู„ุคู„ุค ููŠุฑูˆุฒ


Tempat yang diberkahi, Baba Syuja Abu Lu'lu'ah Fairuz.


Orang Syiah memiliki acara istimewa untuk mengenang Abu Lu'lu'ah, mereka beribadah di makamnya.


Tahu doa mereka di kuburan Abu Lu'lu' ?


Mereka mengucapkan do'a,


ุงู„ู„ู‡ู… ุงุญุดุฑู†ูŠ ู…ุน ุฃุจูŠ ู„ุคู„ุคุฉ


“Ya Allah, kumpulkanlah aku bersama Abu Lu'lu'ah.”


Itulah sekte sesat Syiah !


✍️ Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zaman Perayaan Kebodohan

Zaman Perayaan Kebodohan Di zaman serba cepat ini, kebodohan bukan lagi musuh. Ia justru dirayakan, dibagikan, bahkan dijadikan identitas. Dalam The Death of Expertise, Tom Nichols mencatat fenomena meningkatnya kepercayaan diri publik dalam isu-isu kompleks yang sebenarnya mereka tidak pahami. Menurutnya, kebodohan kini tidak lagi disembunyikan, tapi diklaim sebagai bentuk “kebebasan berpikir”. Sedangkan Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death menyebut bagaimana hiburan telah merusak kedalaman berpikir publik. Bauerlein menambahkan, anak muda lebih memilih scrolling dibanding membaca buku, walau akses terhadap ilmu sudah terbuka lebar. Di dunia digital saat ini, kita terbiasa melihat seseorang bicara panjang soal sains, ekonomi, bahkan filsafat, padahal baru saja menonton video berdurasi 30 detik. Komentar-komentar yang yakin tapi kosong memenuhi kolom diskusi. Tidak ada proses berpikir, hanya pengulangan tren. Anehnya, ini tidak dianggap masalah. Malah sering dipuji: “Setidakny...

Perjuangan Kaum Dalam Merubah Nasib

Macam - macam Perjuangan Suatu Kaum (dalam rangka berusaha merubah nasib suatu kaum itu sendiri)  Hanya satu yang sesuai Kehendak Pembuat Kaum, Kehendak Pembuat dunia & sesuai Uswah yang seharusnya. Yaitu : Islam ala Minhajjun Nubuwah (Mendapatkan Ridho Allah itu, dengan meniru dengan baik kepada Kaum Muhajirin & Anshor (taba'uhum bil ihsanin, Rodiyaullahuanhum wa Rodu'anh)) (catatan : Dulu..., kampung Indonesia pernah akan berjuang merubah nasib dengan cara Nasionalisme, Agama dan Komunisme sekaligus!!!! (NaSaKom)) Berikut ini adalah macam-macam cara suatu kaum dalam merubah nasib secara berjama'ah dengan cara dan pemikirannya sendiri, tidak sesuai dengan cara Allah melalui Rasulullah SAW : 1. Konservatisme Sebuah filsafat politik yang mendukung nilai-nilai tradisional. Istilah ini berasal dari kata dalam bahasa latin, conservฤre, melestarikan; "menjaga, memelihara, mengamalkan". Karena berbagai budaya memiliki nilai-nilai yang mapan dan berb...

Belajar dari Sahabat Abu Dzar Al-Ghifari

Belajar dari Sahabat Abu Dzar Al-Ghifari IA   datang ke Makkah sambil terhuyung-huyung, namun sinar matanya bersinar bahagia. Ia memasuki kota dengan menyamar seolah-olah hendak melakukan  thawaf  mengelilingi berhala-berhala di sekitar Ka’bah, atau seolah-olah musafir yang sesat dalam perjalanan, yang memerlukan istirahat dan menambah perbekalan. Padahal seandainya orang-orang Makkah tahu bahwa kedatangannya itu untuk menjumpai Nabi Muhammad  Shalallahu ‘Alaihi Wassallam  dan mendengarkan keterangan beliau, pastilah mereka akan membunuhnya. Samar-samar  ia memperoleh petunjuk kediaman Nabi Muhammad. Pada suatu pagi, lelaki itu, Abu Dzar Al-Ghifari, pergi ke tempat tersebut. Didapatinya Rasulullah  Shalallahu ‘Alaihi Wassallam  sedang duduk seorang diri. “Selamat pagi, wahai kawan sebangsa.” “ Wa alaikum salam , wahai sahabat,” jawab Rasulullah. “Bacakanlah kepadaku hasil gubahan Anda!” “Ia bukan syair hingga dapat digubah...