Syekh Sahal Lopang Cilik: Ulama Sederhana yang Menjadi Guru Para Ulama Banten
Serang, Banten – Di tengah sejarah panjang ulama di tanah Banten, nama Syekh Sahal Lopang Cilik dikenal sebagai sosok alim yang hidup sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa. Beliau dikenang oleh masyarakat sebagai seorang ulama besar sekaligus wali Allah yang menjadi guru bagi banyak tokoh agama pada masanya.
Riwayat tentang Syekh Sahal banyak diwariskan secara lisan dari para sesepuh, khususnya di wilayah Kampung Cakung, Kresek, dan Lopang Cilik, Kota Serang.
Nasab Syekh Sahal
Syekh Sahal dikenal sebagai keturunan dari seorang ulama besar bernama Syekh Cili Wulung Cakung. Garis keturunannya adalah sebagai berikut:
Syekh Sahal bin Kyai Ules bin Kyai Dana bin Kyai Ikrom bin Kyai Su'aeb bin Syekh Cili Wulung Cakung.
Beliau diperkirakan lahir pada akhir abad ke-17 Masehi di Kampung Cakung.
Saudara-Saudara Syekh Sahal
Syekh Sahal memiliki tiga saudara, terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan, yaitu:
1. Syekh Sahal – menetap di Kampung Lopang Cilik, Serang.
2. Kyai Asapa – tetap tinggal di Cakung dan dimakamkan di Pemakaman Kresen.
3. Kyai Ismail – menetap di Kampung Belod dan dimakamkan di Pemakaman Belod.
4. Nyai Zubaedah – menikah dengan Syekh Umar bin Arobi dan menetap di Tanara. Dari garis keluarga ini lahir seorang ulama besar Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani.
Sosok Ulama yang Sangat Sederhana
Syekh Sahal dikenal sebagai ulama yang tidak menampakkan keulamaannya dari penampilan luar. Cara berpakaian beliau sangat sederhana sehingga orang yang melihatnya sering mengira beliau hanyalah masyarakat biasa.
Namun di balik kesederhanaannya, beliau memiliki ilmu agama yang sangat dalam, khususnya dalam penguasaan kitab-kitab klasik (kitab kuning).
Kisah Saat Mengoreksi Kiai yang Mengaji
Salah satu kisah yang sering diceritakan secara turun-temurun terjadi ketika Syekh Sahal masih muda.
Suatu hari, Syekh Sahal bersama adiknya Kyai Asapa sedang mencari ikan di Kali Lopang menggunakan dokdok (serokan ikan). Pada saat yang sama, di wilayah tersebut sedang berlangsung pengajian besar yang dihadiri para kiai sepuh dan masyarakat.
Seorang kiai sedang membaca dan mensyarahkan kitab kuning. Ketika mendengar penjelasan tersebut, Syekh Sahal berkata:
“Kiai membaca kitabnya acak-acakan, tidak memahami nahwu dan sharaf, bahkan penjelasannya lambat.”
Ucapan itu didengar oleh warga sekitar, lalu disampaikan kepada kiai yang sedang mengajar. Kiai tersebut kemudian meminta agar Syekh Sahal dan adiknya dibawa menghadap.
Ketika bertemu, kiai itu bertanya:
“Siapa namamu?”
Syekh Sahal menjawab dengan tenang:
“Saya Sahal, dan ini adik saya Asapa. Kami berasal dari Kampung Cakung, Kresek. Kami sedang mencari ikan di sini.”
Kiai tersebut kemudian memberikan sebuah kitab kuning dan meminta Syekh Sahal untuk membacanya sekaligus mensyarahkannya.
Hal yang mengejutkan pun terjadi.
Syekh Sahal membaca dan menjelaskan isi kitab itu dengan lancar tanpa melihat kitab sama sekali.
Kiai tersebut sangat terkejut melihat kemampuan luar biasa seorang pemuda sederhana yang ternyata menguasai isi kitab tersebut dengan hafalan.
Karena kekaguman itu, sang kiai kemudian meminta Syekh Sahal dan Kyai Asapa menjadi menantunya, karena ia memiliki dua orang putri.
Menetap di Lopang Cilik
Dari peristiwa itu:
* Syekh Sahal menerima lamaran tersebut dan menikahi putri sang kiai, kemudian menetap di Kampung Lopang Cilik, Serang.
* Sementara Kyai Asapa menolak menikah dan kembali ke Kampung Cakung.
Sejak saat itu, Syekh Sahal dikenal sebagai guru agama yang dihormati masyarakat di wilayah Serang.
Guru Para Ulama
Syekh Sahal memiliki sejumlah murid yang kelak menjadi ulama besar, di antaranya:
* Syekh Nawawi al-Bantani
* Syekh Utsman Keragilan
Walaupun mengajar banyak santri, Syekh Sahal tetap menjalani kehidupan sederhana. Pada waktu senggang, beliau berdagang tembakau untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Kisah Karomah Penentuan Arah Kiblat Masjid Pegantungan
Salah satu kisah yang paling terkenal tentang Syekh Sahal adalah ketika pembangunan Masjid Pegantungan di Serang.
Pada saat itu para kiai berkumpul untuk menentukan arah kiblat masjid. Namun sejak pagi hingga menjelang siang, arah kiblat belum juga ditemukan. Perdebatan antar ulama pun mulai terjadi.
Syekh Sahal yang saat itu sedang berjualan tembakau di daerah Pegantungan melihat keributan tersebut dan berkata:
“Anak-anak itu sedang ribut apa?”
Seorang warga menegur beliau:
“Bukan anak-anak, itu para kiai sedang menentukan arah kiblat.”
Syekh Sahal tersenyum, lalu mendekati mereka dan bertanya apa yang sedang terjadi. Setelah mengetahui masalahnya, beliau kemudian berdiri menghadap ke arah barat.
Lalu beliau berkata:
“Coba lihat ke bagian lengan baju saya ini.”
Para kiai yang melihatnya terkejut, karena di bagian lipatan lengan baju Syekh Sahal terlihat bayangan Ka'bah.
Para ulama yang hadir pun terdiam dan menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang wali Allah.
Akhirnya Syekh Sahal sendiri yang menentukan titik arah kiblat Masjid Pegantungan, yang kemudian dijadikan sebagai pondasi pembangunan masjid tersebut.
Wafat dan Makam
Syekh Sahal akhirnya wafat dan dimakamkan di:
Kampung Lopang Cilik, Kelurahan Lopang, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten.
Hingga kini makam beliau masih diziarahi oleh masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada seorang ulama besar yang pernah hidup dan mengajarkan ilmu di tanah Banten.
Catatan Riwayat
Riwayat ini merupakan kisah yang diwariskan secara turun-temurun dari para sesepuh Kampung Cakung dan keturunan Syekh Sahal, yang dituturkan sekitar tahun 1975.
Sebagaimana tradisi sejarah lisan, mungkin terdapat versi lain dari kisah ini, dan kebenaran sepenuhnya hanya Allah yang mengetahui.
Wallahu a'lam bish-shawab..
Sumber penuturan:
• "Abah Hadi" Pendiri dan Pengasuh Padepokan Ad-Dzikri Nurul Qulub 165
Jeruk Tipis, Kragilan – Serang, Banten


Komentar
Posting Komentar