Langsung ke konten utama

Sejarah Singkat Madrasah Deoband dan Hubungannya dengan Taliban

Dianggap Sama dengan Syariat Islam Arab Saudi, Ternyata Inilah Deobandi, Ajaran Islam yang Dipegang Taliban dan Ditentang Pemuka Islam Sunni, Siapa Sangka Berakar di Desa di India


By May N, Jumat, 1 Oktober 2021 | 16:00 WIB

 

Desa Mujahiddin setelah Soviet menduduki Afghanistan, cikal bakal berdirinya Taliban karena gelonggongan uang dari AS



Intisari-Online.com - Mengikuti kudeta kekuasaan di Afghanistan oleh Taliban, yang berambisi membangun kembali 'Kekaisaran Islam Afghanistan', muncul ketakutan terkait ideologi Islamis tertentu akan bangkit kembali.


Hal inilah yang menyebabkan warga Afghanistan dalam jumlah besar melarikan diri, atau bersembunyi menyelamatkan hidup mereka.


Taliban sudah dikenal karena aturan mereka yang menekan.


Mereka telah menguasai Afghanistan sejak 1996 sampai 2001.


Kemudian mereka digulingkan oleh pasukan Amerika Serikat (AS) dan Inggris.


Di bawah aturan Taliban, penganut agama minoritas dan umat Muslim lain yang tidak memiliki pemahaman Islam sesuai dengan mereka tidak ditoleransi.


Taliban juga dengan parah melarang hak wanita dan perempuan.


Banyak yang berpikir pemahaman syariat Islam Taliban juga sama dengan syariat Islam di Arab Saudi, tapi ternyata hal ini berbeda.


Penelitian oleh The Conversation yang meneliti konflik etno-agama di Asia Selatan, inilah pemaparan mengenai asal-usul pemahaman religius Taliban.


Akar dari ideologi mereka, yaitu Islam Deobandi, bisa dilacak ke masa kolonial India abad ke-19.


Kolonialisme dan Islam


Islam Deobandi muncul di India pada 1867, 10 tahun setelah bentrokan besar nasionalis India melawan kepemimpinan East India Company (EIC) Inggris.



Dua ustaz Islam, Maulana Muhammad Qasim Nanautawi dan Maulana Rashid Muhammad Gangohi, menjadi dalang berdirinya sekolah Deobandi.


Tujuan mereka adalah mendoktrin pemuda Muslim dengan pandangan murni, kaku dan keras.


Awalnya, Islam Deobandi adalah pergerakan anti-kolonial yang dirancang untuk mementingkan Islam kembali.


Sekolah Islam ini memiliki pemahaman iman yang sangat khusus.


Deobandi mengedepankan Islamisme ortodoks, bersikeras bahwa hukum Islam Sunni atau hukum syariat Islam, adalah jalan keselamatan.


Mereka bersikeras menerapkan praktik Islam seperti di abad ke-7, ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup.


Mereka memegang janji jihad global sebagai tugas suci melindungi umat Muslim di seluruh dunia, dan menolak terhadap ide non-Islam apapun.




Madrasah pertama, atau sekolah Islam, yang digunakan mengajarkan para pemuda Muslim di tradisi Deobandi didirikan di provinsi utara India, yang saat ini menjadi Uttar Pradesh, pada akhir abad ke-19.


Sistem sekolah Deobandi menyebar selama beberapa puluh tahun berikutnya dan menarik pemuda Muslim dari berbagai wilayah India yang berbeda.


Contohnya, tradisi Deobandi menjadi sekolah Islam paling populer di antara kelompok Pashtun, kelompok etnis tinggal di wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan.



Pemimpin Pashtun memainkan peran penting mencapai dan memperluas kurikulum Deobandi dan tradisi Pashtun di sepanjang garis Durand, batas kolonial yang memisahkan India Inggris dengan Afghanistan.


Pembiayaan dan perkembangan


Setelah India Inggris dipisahkan tahun 1947 antara India dan Pakistan, banyak lulusan Deobandi bermigrasi ke Pakistan dan mendirikan madrasah dalam jumlah besar.


Dengan kemerdekaan India dan Pakistan, sekolah tersebut menempatkan perhatian penuh melatih murid-muridnya di dalam tradisi mendasar Islam.


Berpuluh-puluh tahun setelah kemerdekaan Pakistan, madrasah Deobandi menyebar di seluruh Pakistan, dan salah satu penyebab prinsip aktivisme politiknya menjadi penyebab perlakuan sewenang-wenang India terhadap umat Muslim di wilayah Jammu dan Kashmir.


Menurut salah satu data, tahun 1967 ada sebanyak 8000 sekolah Deobandi di seluruh dunia dan ribuan lulusan Deobandi terutama di India, Pakistan, Bangladesh, Afghanistan dan Malaysia.


Awalnya madrasah Deobandi miskin, kemudian bisa tumbuh pesat adalah karena serangan Soviet ke Afghanistan pada 1979.


Keterlibatan rahasia CIA di perang malah justru mendanai militerisasi Islam dan membantu mengatur dan membuat panggung gerakan pertahanan yang dilakukan oleh para pejuang religius.


Sejumlah pejuang Afghanistan ditarik dari madrasah Deobandi, terutama dari warga Pashtun yang memainkan peran penting dalam pertahanan.


Selama waktu itu, madrasah Deobandi juga mendapat bantuan keuangan besar.


Bantuan ini terutama datang dari bantuan dana AS yang digunakan untuk Pakistan, serta uang dari Arab Saudi.


Arab Saudi saat itu menggunakan pengaruh uang mereka untuk memasukkan paham syariat Islam mereka, Wahabi, ke dalam madrasah Deobandi.


Wahabi adalah syariat Islam yang berdasarkan tafsir dari Al-Quran.


Pada saat itu, madrasah Deobandi sudah sangat jauh dari akar agama mereka.



Sumber dari :

https://intisari.grid.id/amp/032919947/dianggap-sama-dengan-syariat-islam-arab-saudi-ternyata-inilah-deobandi-ajaran-islam-yang-dipegang-taliban-dan-ditentang-pemuka-islam-sunni-siapa-sangka-berakar-?page=all

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Zaman Perayaan Kebodohan

Zaman Perayaan Kebodohan Di zaman serba cepat ini, kebodohan bukan lagi musuh. Ia justru dirayakan, dibagikan, bahkan dijadikan identitas. Dalam The Death of Expertise, Tom Nichols mencatat fenomena meningkatnya kepercayaan diri publik dalam isu-isu kompleks yang sebenarnya mereka tidak pahami. Menurutnya, kebodohan kini tidak lagi disembunyikan, tapi diklaim sebagai bentuk “kebebasan berpikir”. Sedangkan Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death menyebut bagaimana hiburan telah merusak kedalaman berpikir publik. Bauerlein menambahkan, anak muda lebih memilih scrolling dibanding membaca buku, walau akses terhadap ilmu sudah terbuka lebar. Di dunia digital saat ini, kita terbiasa melihat seseorang bicara panjang soal sains, ekonomi, bahkan filsafat, padahal baru saja menonton video berdurasi 30 detik. Komentar-komentar yang yakin tapi kosong memenuhi kolom diskusi. Tidak ada proses berpikir, hanya pengulangan tren. Anehnya, ini tidak dianggap masalah. Malah sering dipuji: “Setidakny...

Perjuangan Kaum Dalam Merubah Nasib

Macam - macam Perjuangan Suatu Kaum (dalam rangka berusaha merubah nasib suatu kaum itu sendiri)  Hanya satu yang sesuai Kehendak Pembuat Kaum, Kehendak Pembuat dunia & sesuai Uswah yang seharusnya. Yaitu : Islam ala Minhajjun Nubuwah (Mendapatkan Ridho Allah itu, dengan meniru dengan baik kepada Kaum Muhajirin & Anshor (taba'uhum bil ihsanin, Rodiyaullahuanhum wa Rodu'anh)) (catatan : Dulu..., kampung Indonesia pernah akan berjuang merubah nasib dengan cara Nasionalisme, Agama dan Komunisme sekaligus!!!! (NaSaKom)) Berikut ini adalah macam-macam cara suatu kaum dalam merubah nasib secara berjama'ah dengan cara dan pemikirannya sendiri, tidak sesuai dengan cara Allah melalui Rasulullah SAW : 1. Konservatisme Sebuah filsafat politik yang mendukung nilai-nilai tradisional. Istilah ini berasal dari kata dalam bahasa latin, conservāre, melestarikan; "menjaga, memelihara, mengamalkan". Karena berbagai budaya memiliki nilai-nilai yang mapan dan berb...

Belajar dari Sahabat Abu Dzar Al-Ghifari

Belajar dari Sahabat Abu Dzar Al-Ghifari IA   datang ke Makkah sambil terhuyung-huyung, namun sinar matanya bersinar bahagia. Ia memasuki kota dengan menyamar seolah-olah hendak melakukan  thawaf  mengelilingi berhala-berhala di sekitar Ka’bah, atau seolah-olah musafir yang sesat dalam perjalanan, yang memerlukan istirahat dan menambah perbekalan. Padahal seandainya orang-orang Makkah tahu bahwa kedatangannya itu untuk menjumpai Nabi Muhammad  Shalallahu ‘Alaihi Wassallam  dan mendengarkan keterangan beliau, pastilah mereka akan membunuhnya. Samar-samar  ia memperoleh petunjuk kediaman Nabi Muhammad. Pada suatu pagi, lelaki itu, Abu Dzar Al-Ghifari, pergi ke tempat tersebut. Didapatinya Rasulullah  Shalallahu ‘Alaihi Wassallam  sedang duduk seorang diri. “Selamat pagi, wahai kawan sebangsa.” “ Wa alaikum salam , wahai sahabat,” jawab Rasulullah. “Bacakanlah kepadaku hasil gubahan Anda!” “Ia bukan syair hingga dapat digubah...